Tren Inflasi Meningkat, Rakorwil TPID Sulampua Dorong Sinergitas Antardaerah

Tren Inflasi Meningkat, Rakorwil TPID Sulampua Dorong Sinergitas Antardaerah

SULUTDAILY|| Manado- Tim Pengendali Inflasi Daerah se Sulawesi, Maluku dan Papua ( TPID Sulampua) menggelar Rapat Koordinasi Wilayah ( Rakorwil) di Four Points By Sheraton Hotel Manado, Rabu (20/07/2022) membahas ketersediaan dan kedaulatan pangan mengantisipasi inflasi yang kini terus meningkat, yang mencapai 4,35 persen secara nasional.

Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian
Dr. Iskandar Simorangkir, S.E., MA dalam diskusi panel memaparkan strategi pengendalian inflasi dan potensi kerjasama antar daerah.

“Secara spasial, inflasi daerah di wilayah Sulampua pada Juni 2022 bervariatif. Realisasi inflasi Papua tercatat tertinggi sebesar 5,60% (yoy), sementara Malaku Utara dan Papua Barat menjadi daerah dengan realisasi inflasi cukup rendah dan stabil. Namun secara umum, inflasi wilayah Sulampua berada dalam tren meningkat.

Menurut Simorangkir, inflasi baseline pada tahun 2022 diperkirakan akan terus meningkat dan berpotensi berada di atas target sasaran.
” Peningkatan inflasi tahun 2022 adanya pent up demand seiring menguatnya pemulihan ekonomi serta masih berlanjutnya transmisi kenaikan harga komoditas global (pangan dan energi),” ujar Simorangkir yang juga adalah Sekretaris TPIP .

Ia juga menyampaikan 5 point hasil koordinasi TPIP 2022 bahwa
peran strategis TPID Prov/Kab/Kota menjaga inflasi pangan bergejolak (Volatile Food) dalam mendukung pencapaian inflasi nasional yakni
memperkuat koordinasi kebijakan,
memitigasi dampak upside risks, menjaga inflasi volatile food dalam kisaran 3 – 5%, memperkuat sinergi komunikasi kebijakan dan pemperkuat koordinasi pemerintah pusat dan daerah.

Direktur Sinkronisasi Urusan Pemerintahan Daerah III Kemendagri
R. Budiono Subambang, ST, MPM dalam presentasinya mengingatkan TPID perlu mengoptimalkan kebijakan untuk menjaga daya beli masyarakat.

” Kerjasama antar daerah harus ditingkatkan untuk memanfaatkan keunggulan komparatif dan kompetitif masing masing daerah, termasuk menghilangkan perasaan ego,” kata Budiono.

Kemudian, Kepala Perwakilan BI Sulawesi Selatan Causa Iman Karana mengungkapkan secara tahunan, inflasi Sulampua Juni 2022 meningkat menjadi 4,17% (yoy) lebih tinggi dari target (3 ± 1%) namun masih lebih rendah dibandingkan Nasional.

BI Sulampua fokus dalam pengendalian inflasi

Secara bulanan, Inflasi Sulampua tercatat 0.42% (mtm), kenaikan terjadi pada hampir seluruh provinsi, kecuali Sultra. “Inflasi Juni 2022 disumbang utamanya komoditas Cabai Rawit, Bawang Merah, dan Tomat yang dipengaruhi oleh penurunan produksi akibat kondisi cuaca yang kurang mendukung ditengah permintaan dari luar wilayah Sulampua yang tinggi, sementara beberapa sentra masih berada pada periode masa tanam,” ujarnya.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memaparkan dampak fenomena La Nina di sejumlah wilayah Indonesia diprediksi akan terjadi hingga pada akhir 2022. Hal ini sangat berpengaruh pada hasil panen dan pengendalian hama.

Koordinator Bidang Observasi dan Informasi Stasiun Klimatologi Sulut Muhamad Chandra Buana menjelaskan La Nina merupakan fenomena mendinginnya suhu muka laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur hingga melewati batas normalnya.

” Kondisi ini bisa meningkatkan curah hujan di wilayah Indonesia, serta membuat musim hujan terjadi lebih lama,” kata Chandra.

Ia mengingatkan, sebagian besar pusat layanan iklim lainnya memprakirakan kondisi ENSO La Niña Moderat–Netral dan akan berlangsung hingga Oktober–November–Desember 2022.

“Mundurnya musim kemarau di tahun yang perlu diperhatikan adalah air berlimpah, optimalkan utamanya bagi pertanian tadah hujan dan waspadai hama karena kelembapan yang tinggi,” tuturnya.

Usai diskusi panel yang di pandu Kepala Perwakilan Kompas TV Manado Susan Palilingan, disesi kedua, Kepala Devisi Perumusan Implementasi Kekda BI Sulut, Fernando Butarbutar memandu diskusi dengan narasumber para pedagang Sulampua yang peduli membantu TPID.

Data Inflasi Nasional, Sumber BI

Diakhir acara Kepala Perwakilan BI Sulut Arbonas Hutabarat membacakan 3 poin kesimpulan Rakorwil bahwa menghadapi tantangan inflasi ke depan perlu tindaklanjut langkah strategis dengan program 4K yakin:

Pertama, Program Jangka Pendek dan Jangka Panjang

Program jangka pendek, melalui percepatan realisasi Kerjasama Antar Daerah (KAD), peningkatan intensitas operasi pasar, dukungan fasilitasi distribusi dan logistik serta himbauan/gerakanuntuk subtitusi konsumsi pangan.

Program, jangka panjang dengan penguatan di sisi hulu (pembinaan klaster pangan, urban farming, digitalisasi), antara dan hilir serta penguatan peran lembaga afiliasi pemerintah (BUMN, BUMD, Bulog, dsb)sebagai aggregator dan pelaksana kebijakan stabilisasi harga.

Kedua, Temu Pelaku Usaha

a) Berbagai permasalahan yang dihadapi pelaku usaha di Sulampua dapat teridentifikasi baik di sektor pertanian, perikanan dan
peternakan. Diharapkankita semua bersinergi untukmencari solusi dari berbagai permasalahan tersebut.

b) Mengurangi asymmetric information terutama sumber pasokan barang sehingga dapat mendukung ketersediaan serta
pasokan antar waktu dan wilayah. Beberapa komoditas yang potensial untuk dikerjasamakan antara lain: cabemerah, cabe rawit,
telur ayamras, daging ayam ras, bawang merah dan ikan.

c) Menjadi sarana komunikasi dan sharing informasi antar pelaku untuk membantu kelancaran usaha seperti sumber pasokan,perizinan dan lainnya. Tindak lanjut hal ini, akan dibuatkanwa group pelaku usaha utama di Sulampua dan

d) Telah dilaksanakan penandatanganan Purchase Order (PO) komoditas hortikultura antara Koperasi Bersehati Manado dengan
Asosiasi Pedagang Ternate. Hal yang sama diharapkandapat dilakukan di provinsi lainnya.

Ketiga, Pertemuan Rutin TPID Sulampua

Pelaksanaan Rakorwil TPID se-Sulampua selanjutnya akan dilaksanakan pada Bulan November 2022 yang bertempat di Provinsi Papua. (Jr)

CATEGORIES
TAGS
Share This