MINUT || Sulutdaily – Puncak libur Hari Raya Natal 2022 dan Tahun Baru 2023 sudah selesai. Khusus wilayah Provinsi Sulawesi Utara yang mayoritas Kristiani budaya silaturahmi dengan menyajikan makan-minum, kue dan minuman bersoda sudah pasti ada dan menyisahkan sampah botol plastik dan sejenisnya.
Terkait hal itu, Bank Sampah Induk Likupang (BSI Likupang) membuka kesempatan kepada warga berdomisili di wilayah Likupang Raya atau 3 kecamatan Likupang Timur, Likupang Barat dan Likupang Selatan, untuk menjadi nasabah baru yaitu menabung sampah mereka untuk dijadikan uang.

“Sampai saat ini BSI Likupang masih menerima setoran sampah jenis sampah botol atau gelas plastik dan kaleng dalam kondisi bersih tentunya, dari nasabah lama maupun nasabah baru,” ungkap bagian Sekretaris BSI Likupang Dressita Andries, Selasa (10/01/2023).
Diingatkan Sita, sapaannya, bahwa Bank Sampah bukan tempat sampah, jadi sampah yang diterima untuk ditabung ataupun langsung dibeli dan dibayar, merupakan sampah dalam kondisi bersih.
“Saat ini kami menerima jenis sampah botol maupun gelas plastik bekas air mineral ataupun minuman bersoda merek apapun, kaleng dan semuanya sudah dalam keadaan kosong dan bersih. Untuk jenis sampah lain belum karena kami Bank Sampah Induk Likupang masih fokus untuk membantu pengendalian sampah jenis plastik yang sekarang paling banyak dibuang dipinggir jalan,” jelasnya.
Diinfomasikannya juga bahwa ada tiga jenis nasabah di BSI Likupang pertama nasabah yang menabung sampahnya supaya menerima uang nanti dalam jumlah yang cukup banyak, kedua nasabah yang langsung dibayar atau menukar sampahnya dengan pulsa kuota atau jenis sembako, lalu ketiga, nasabah yang mendonasikan atau menyumbangkan sampahnya karena sudah ada kesadaran pengendalian sampah.

Harga beli saat ini untuk sampah jenis botol, gelas plastik atau kaleng bersih dan sudah terpilah 2000 per kilogram. Jika sampah campur atau bersih namun belum terpilah 1000 per kilogram. Sampai saat ini sudah ada beberapa nasabah lama yang menyetor sampahnya yaitu dari Desa Sarawet sebagai lokasi gudang dan dari Desa Winuri juga Desa Marinsow.
“Kami hanya menerima yang bersih. Sebenarnya hal ini tidak sulit, misalnya ketika ada botol plastik selesai dipakai langsung disendirikan di plastik besar atau karung sehingga tidak akan tercampur dengan sampah-sampah lain yang basah atau kotor,” jelas Sita.
Terpisah, Ketua Harian Komunitas Likupang Raya (KLiR) Jelly K Maramis sebagai pembina, mengatakan kehadiran BSI Likupang merupakan motivator bagi masyarakat maupun pemerintah untuk lebih peduli lingkungan. Apalagi sampah plastik sulit terurai dan menjadi momok bagi kesehatan masyarakat setempat.
“Makin banyak sampah dibuang sembarangan apalagi jenis plastik maka akan makin mengancam kehidupan masyarakat. Antara lain wabah penyakit karena jika musim hujan plastik menampung air kotor menjadi tempat jentik nyamuk. Sampah juga membuat selokan, sungai dan aliran air tersumbat biza menjadi penyebab banjir,” ungkapnya.
Menurut Jelly, penerintah harus lebih perhatian masalah pengendalian sampah khususnya Likupang yang sudah ditetapkan sebagai KEK Pariwisata atau Superprioritas Pariwisata Indonesia.

“Pada dasarnya Bank Sampah Induk Likupang juga hadir untuk kepentingan banyak orang dan banyak sektor. Sampai saat ini BSI Likupang secara swadaya bertahan karena keterpanggilan untuk berkontribusi bagi daerah walaupun dari hal-hal kecil,” ujar Maramis.






