Dugaan Pungli UNIMA, Rektor Keluarkan Surat Sakti.

Dugaan Pungli UNIMA, Rektor Keluarkan Surat Sakti.

SulutDaily || Tondano – Pungutan liar (Pungli) merupakan perbuatan yang dilarang oleh konstitusi dan pemerintah dalam hal ini presiden Joko Widodo. Belum hilang dari ingatan kita soal Presiden yang menelefon Kapolri untuk mengusut pungutan liar yang dilakukan beberapa oknum kepada pengendara truk konteiner, angkanya hanya Rp.5.000,-.


Hal senada dapat kita dengar pada kalangan dunia pendidikan tinggi. Beberepa oknum melakukan pungli kepada mahasiswa yang akan melakukan pengurusan ujian akhir, jika tidak maka proses pengurusan bisa saja dibiarkan atau belum langsung diproses. Hal ini sudah lama terjadi, berhenti sejenak dan dilanjutkan lagi sampai jadi “tradisi” pengurusan berkas ujian. Kasus lain yang kami dapat yaitu adanya pula oknum yang meminta ratusan ribu untuk meng-upload nilai, jika tidak maka proses itu akan lama dilakukan, Padahal itu sudah menjadi hak dari masing-masing mahasiswa yang akan melakukan pengurusan berkas ujian akhir, semuanya kebanyakan dengan alasan “Doi Fotocopy” (kasus baru).


Mahasiswa telah membayar Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang didalam terdapat Registrasi, Probinas, Perpustakaan, SPI,SPP, PKL, PPL/Magang< Seminar Proposal dan hasil, Komprehensif, Reviu artikel, Wisudaa sampai ijasah.


Merespon hal ini, Rektor Universitas Negeri Manado Prof. Dr. Deitje A. Katuuk, M.Pd mengeluarkan Surat Edaran nomor 40 tahun 2021 yang isinya Larangan Melakukan Pungli dan Gratifikasi.


Henry, salah satu Alumni Unima sangat menyayangkan jika kejadian ini hanya sampai pada selembar kertas tanpa tindakan dan sangksi oleh pimpinan Universitas. “ Kami mengapresiasi soal edaran ini sekaligus menyayangkan jika hal ini hanya terjadi saat Pungli di Unima sudah menumpuk dan tidak ada tindakan dan sanksi akademik. Jika ada larangan maka ada sanksi. Beberapa semester lalu juga sudah dilaporkan beberapa oknum kepada beberapa pimpinan kampus tapi tidak diberi sanksi, dampaknya pelanggaran ini makin meraja lelah dikalangan kampus” ungkap Henry Dadeng, mantan aktivis mahasiswa Unima.

Bukan hanya itu Saber Pungli tidak berjalan dengan baik, jika berjalan maka akan ada pemberantasan dan sanksi. Saber pungli diharapkan harus melibatkan mahasiswa sebagai perwakilan yang sering dirugikan dalam hal ini, tambanya.


Hal yang menjadi budaya adalah adanya “Uang Amplop” yang sudah menjadi tradisi dari setiap kali melaksanakan ujian seminar dan ujian akhir, entah disebut pungutan liar atau gratifikasi dari mahasiswa, akan tetapi hal ini harus segera dihilangkan dari tradisi kampus. Berkaca dengan beberapa kampus yang peringkat perguruan tinggi jauh diatas Unima, praktek-praktek semacam ini sudah tidak lagi ada, mereka lebih mementingkan kualitas akademik untuk menjaga nama baik almamater dan kampus mereka. Tambah Jansen Ering, Mantan Tonaas Kabasaran Unima.


Semoga surat edaran ini bisa dijalankan dengan baik tanpa paksaaan dan harus dari hati nurani civitas akademika UNIMA untuk menuju Kampus yang Berintegritas, Mapalus membangun Bangsa. (Jonathan W)

CATEGORIES
Share This