SULUTDAILY|| Manado – Awal tahun 2026, Majelis Umum Kristen Indonesia ( MUKI) Sulawesi Utara menggelar Doa Syukur dan Diskusi dengan tajuk ‘ Bacirita Awal Taon’ tentang peran dan tantangan Ormas MUKI Sulut dalam kehidupan Masyarakat, Gereja, Bangsa dan Negara Indonesia khususnya di Sulawesi Utara, Jumat (23/01/2029) di House of Blessing Winangun, milik Keluarga Rambitan- Kotambunan, Wakil Bendahara MUKI Sulut.
Acara ini menghadirkan pematik Dewan Pengawas MUKI Sulut Ir Marhany VP Pua M.A, Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) Johny Alfriets Alexander Suak, SE. MSi dan Kepala Bidang Bimas Kristen Kanwil Sulut, Pdt. Dr. Sonia Tampanguma, S.Ag, M.Pd, yang dipandu Ir Oldy Sambuaga sebagai moderator.
Kepala Kesbangpol Sulut, Johny Alfriets Alexander Suak, SE. MSi mengungkapkan MUKI sebagai Ormas Sosial Keagamaan harus mencerminkan simbolik kebangsaan Indonesia, organisasi nasionalis dan inklusif yang menjadi penghubung antara gereja dan negara serta menjadi kanal informasi dan aspirasi yang sehat dalam kehidupan bermasyarakat.
” MUKI Sulut diharapkan menjadi pelopor moderasi beragama untuk menjaga keharmonisan dan toleransi di tengah keberagaman masyarakat yang menjadi fondasi dalam memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa,” kata Johny.
Ia juga berharap, MUKI terdepan sebagai penjaga etika Kristen karena tantangan fragmentasi kekristenan, tarikan politik dan lemahnya literasi digital sementara mengikis kehidupan kekristenan.
” MUKI dalam setiap diskusi dan analisis kritisnya, harus menghasilkan persepsi publik yang membantu pemerintah untuk memahami kebutuhan masyarakat sebelum mengambil keputusan atau kebijakan,” ujarnya.
Dewan Pengawas MUKI Sulut Ir. Marhany Pua, M. A pada kesempatan tersebut menyebutkan tantangan kemandirian finansial dalam hal ini bukan soal memiliki banyak uang, tetapi tentang manajemen yang bijak untuk mencapai kebebasan, keamanan dan kemandirian jangka panjang.
” MUKI memiliki SDM yang mumpuni dan berkomitmen, harus ada terobosan network, ditengah isu teologis internal dan regulasi yang kurang mendukung ormas Kristen,” kata Marhany sambil mengungkap inspirasi fenomena kebijakan pemimpin Trump dan Putin.
Sementara itu, Kepala Bidang Bimas Kristen Kanwil Sulut, Pdt. Dr. Sonia Tampanguma, S.Ag, M.Pd mengatakan tantangan gereja- gereja di Sulut adalah konflik kepemimpinan internal dan penatalayanan organisasi.
“Terdapat 102 Sinode Gereja di Sulut dan MUKI diharapkan berperan sebagai pendamping. Karena melalui pendampingan yang holistik, gereja akan menjadi komunitas sehat, berkembang dan sejalan dengan aturan pemerintah,” kata Sonia.
Ketua DPW MUKI) Sulut Dr. Ir. Mooddy Rondonuwu, ST, MT mengatakan sejumlah program MUKI Sulut 2026 dibicarakan juga dalam acara ini, termasuk Dialog Moderasi Agama yang secara rutin akan dilakukan dalam waktu dekat.
“Moderasi beragama didasarkan pada komitmen kebangsaan, toleransi, antikekerasan, dan akomodatif terhadap budaya lokal dengan tujuan kehidupan damai, rukun, dan harmonis, serta menjaga keseimbangan antara pemahaman keagamaan dan nilai-nilai kebersamaan persatuan,”kata Mooddy didampingi Sekretaris DPW, Pdt. Dr. Alfrets Daleno, STh, MPd.K.(Jr)






