Informasi Terkini Sulawesi Utara - Media Online Sulut|Wednesday, December 19, 2018
  • Formulir Kelengkapan Persyaratan Administrasi Dapat Di Unduh Pada http://kpu-sulutprov.go.id
  • PENGUMUMAM PENDAFTARAN CALON ANGGOTA KPU KABUPATEN MINAHASA TENGGARA PERIODE 2018-2023
  • Jual Tanah di Jalan.SEA, Sertifikat Hak Milik, Luas Tanah 2.777M2. Tertarik : Hub.081 340 733 991
Anda disini: Home » Lingkungan » Sejarah ‘Gunung Kolintang’ di Desa Sarawet Minahasa Utara

Sejarah ‘Gunung Kolintang’ di Desa Sarawet Minahasa Utara 

Satu diantara belasan lisung batu yang diduga peninggalan leluhur (dotu) di Gunung Kolintang Desa Sarawet, Kecamatan Likupang Timur, Kab.Minahasa Utara. (foto: yudithrondonuwu)

SULUTDAILY // LIKUPANG  – Dalam catatan sejarah desa dikutip dari keterangan sejumlah tokoh masyarakat setempat, Gunung Kolintang di Desa Sarawet merupakan lokasi bersejarah dalam beberapa dekade. Lokasi ini terakhir kali digunakan para leluluhur untuk bertanya (berdoa) kepada Opo Empung (Tuhan Yang Mahakuasa) untuk penentukan lokasi desa yang akhirnya menjadi perkampungan Desa Sarawet di Kecamatan Likupang Timur, saat ini.

Sekitar tahun 1750 Desa Sarawet berlokasi di deretan Desa Paslaten yaitu lahan yang menyelusuri sungai Likupang dan Desa Likupang Satu. Nama asli desa adalah ‘SARAWET URRE’. Lalu pada pemerintahan penjajahan Belanda perkampungan ini dipindahkan ke bagian utara, yaitu Desa Sarawet saat ini. Alasan pemerintah Belanda supaya Desa Sarawet yang baru menjadi satu pos sebagai sebagai benteng pertahanan Belanda di daerah pesisir pantai.

Desa Sarawet disahkan menjadi satu perkampungan pada tahun 1845. Nama Sarawet sering diidentikan dengan rerumputan atau pepohonan akan tetapi arti sebenarnya dari Sarawet diambil dari ucapan kata bahasa daerah Minahasa lebih khususnya anak suku Tonsea yaitu SRAH’…WETA’ Yang berarti Walaupun terpisah-pisah tapi dapat dipersatukan. karena sebelum perkampungan ini disahkan penduduknya masih dalam keadaan terpisah-pisah.

Ada yang menyebutkan jika penduduk dipindah paksa oleh pihak Belanda namun ada juga yang menyatakan bahwa leluhur saat itu berhubungan baik dengan mereka dengan saling bertukar ilmu serta hidup berdampingan. Buktinya ketika diminta pindah lokasi, leluhur diberi kesempatan untuk berdoa di Gunung Kolintang dalam rangka menentukan lokasi desa yang tepat. Banyak leluhur dari Desa Sarawet yang disebut sebagai orang-orang berilmu kebal, jago silat, ilmu meringankan tubuh hingga bisa terbang/ ilmu menghilang. Ini juga alasan lain Belanda menjadikan penduduk Desa Sarawet sebagai benteng pertahanan.

Pemandangan ke arah Pelabuhan Munte dan gugusan pulau-pulau di Likupang dari atas Gunung Kolintang. (foto: yudithrondonuwu)

Pemandangan ke arah Pelabuhan Munte dan gugusan pulau-pulau di Likupang dari atas Gunung Kolintang. (foto: yudithrondonuwu)

Nama -nama tokoh (leluhur) pendiri Perkampungan Sarawet antara lain Dotu Kalalo, Tasiam,  Maramis, Sigarlaki, Sambuaga, Ticoalu, Rondonuwu, Manoppo, Lolong, Rawung dan Macarau. Menurut cerita turun-temurun Dotu Kalalo adalah leluhur yang membuat lubang-lubang di atas batu Gunung Kolintang sebagai tempat tumbuk pinang. Pinang dipercaya sebagai penguat gigi tapi juga sebagai ‘perlengkapan mistis’ bagi leluhur.

Adapun saat itu penduduk bersedia pindah dengan catatan akan bertanya dahulu kepada leluhur dalam menentukan lokasi yang tepat. Leluhur atau tokoh adat kampung saat itu (yang disebut juga ‘dotu’) memutuskan untuk mengelar ritual di lokasi yang biasanya dipakai untuk berdoa jika memohon hal-hal besar yaitu Gunung Kolintang. Tujuan ritual ini selain untuk lokasi yang baru juga untuk mendapat petunjuk/ pewahyuan agar mendapatkan satu tempat yang lebih baik untuk mereka bermukim sekaligus sebagai benteng pertahanan.

Mengapa disebut Gunung Kolintang? Di puncak gunung ini terdapat susunan batu-batuan yang konon katanya akan berbunyi seperti bunyi alat musik kolintang jika akan terjadi sesuatu hal yang besar. Sampai saat ini sejumlah penduduk Desa Sarawet (yang asli maupun pendatang) mengaku pernah mendengar ‘suara’ dari gunung ini.  Menurut mereka suara musik kolintang akan terdengar keras jika akan terjadi bencana seperti banjir atau kematian yang akan terjadi berturut-turut.

Ada juga yang menyatakan Gunung ini menjadi tempat mendapatkan ‘petunjuk’ jika akan ada pertandingan alat musik bambu, alat musik kolintang atau pertandingan lainnya. Cara untuk mendapatkan jawaban dengan memainkan alat musik tersebut di kaki gunung dan jika mendapat balasan suara dari atas Gunung Kolitang maka berarti mereka akan menang dan sebaliknya.

Cerita lainnya bahwa beberapa orang pernah mendaki gunung ini meminta petunjuk dengan semedi (berdoa) untuk meminta jabatan, meminta berkat, bahkan meminta ‘ilmu khusus’ supaya mengobati orang sakit. Konon ada beberapa orang yang mendapatkan cincin dari dalam batu tempat semedi dan mereka memakai cincin itu untuk mendapatkan tujuan sesuai permintaannya.

Intinya bahwa Gunung Kolintang merupakan tempat berdoa yang efektif karena tempatnya yang tenang, indah dan sejuk. Tidak heran sampai saat ini secara diam-diam banyak orang tua maupun muda datang untuk semedi ditempat ini. Memang doa orang benar besar kuasanya sebab yang dipercaya leluhur sebagai Opo Empung adalah Tuhan Sang Pencipta bagi mereka yang percaya agama. Artinya Tuhan yang sama yang memberi berkat sesuai iman percaya dan perbuatan baik seseorang.

Jika dikaitkan dengan sejarah masuknya penduduk asing ke tanah Provinsi Sulawesi Utara maka cukup berkaitan sebab dari posisi batu berbentuk tempat duduk (yang disebut kursi dotu) posisinya persis menghadap ke Pelabuhan Munte yaitu pelabuhan yang biasanya menjadi tempat masuk kapal laut. Pelabuhan ini jam berapa saja bisa masuk kapal berbeda dengan Pelabuhan Likupang di ibukota kecamatan yang jika siang dan jam air surut maka akan jauh untuk berjalan ke daratan.

Berdasarkan catatan sejarah Balai Arkeologi Indonesia, daerah Likupang yang berada di ujung utara Pulau Sulawesi merupakan pintu masuk rombongan orang Minahasa dalam beberapa dekade sejak 6000 tahun lalu. Pesisir Likupang (termasuk Sarawet) adalah daerah tua proto Minahasa atau tanah Malesung. Ras Austronesia mulai masuk dari Taiwan melalui Filiphina ke Sulawesi Utara lalu ke nusantara. Tidak heran sampai saat ini disebut-sebut daerah Sulawesi Utara sebagai pintu masuk yang paling strategis dari negera manapun di dunia untuk menjelejahi nusantara khususunya menggunakan kapal laut.

Hal ini cocok dengan cerita rakyat setempat bahwa sejak ribuan tahun lalu leluhur selalu memantau dari gunung untuk menjaga daerah ini dari masuknya perompak yang sering datang dari perairan Filiphina. Para perompak dari negara lain seperti Mindanau-Filiphina, Taiwan, Tiongkok, Mongolia, Portugis dan Spanyol datang untuk mengambil hasil bumi dari daerah ini.

Cerita rakyat turun-temurun bahwa Gunung Kolintang adalah gunung keramat yang boleh naik sampai kepuncak hanyalah mereka yang merupakan keturunan asli dari para dotu atau penduduk asli atau didampingi/ diantar naik oleh minimal salah satu penduduk asli desa. Ada beberapa orang bahkan takut naik ke gunung ini sebab mitosnya gunung ini memiliki penjaga yaitu ‘roh leluhur’ dan seekor ular hitam besar.

Apa saja situs yang ada di Gunung Kolintang? Selain banyak batu bersusun yang terlihat unik dan sudah berusia ratusan tahun, ada juga 6 lubang (masih dalam pembersihan jumlah kemungkinan lebih) di atas batu yang bulatnya sangat rapih seperti digali mengunakan mesin. Namun tentu saja perlu penelitian lanjut di lokasi ini. Satu yang pasti cerita turun temurun yang menguatkan sejarah dari Gunung Kolintang ini untuk dijadikan kawasan cagar budaya yang patut dilindungi dan dilestarikan.(yudith rondonuwu)

 

Ilustrasi bertapa di Gunung Kolintang.

Ilustrasi bertapa di Gunung Kolintang.

 

Catatan: jika ada pihak-pihak yang merasa memiliki versi lain, koreksi atau tambahan informasi berkaitan tulisan ini bisa menghubungi redaksi. Terima kasih.