Informasi Terkini Sulawesi Utara - Media Online Sulut|Sunday, September 24, 2017
  • Jual Tanah di Jalan.SEA, Sertifikat Hak Milik, Luas Tanah 2.777M2. Tertarik : Hub.081 340 733 991
Anda disini: Home » Budaya » Musik Kolintang dan Keunikan Kayu Wanderan

Musik Kolintang dan Keunikan Kayu Wanderan 

Musik Kolintang dan Keunikan Kayu Wanderan

SULUTDAILY|| Manado- Musik Kolintang  telah terdaftar di UNESCO PBB sebagai Heritage milik Minahasa-Indonesia untuk itu  aset budaya ini harus dilestarikan. Demikian salah satu simpulan dari Seminar Seni Budaya bertajuk “Keunikan Kolintang Berbahan Kayu Wanderan” yang merupakan rangkaian Pagelaran Musik Kolintang dan perayaan HUT ke 90 tokoh Kolintang Indonesia, asal Desa Lembean Minut Alfred Sundah yang digelar oleh Yayasan Alfred Sundah di Peninsula Hotel Manado, Jumat (29/07/2016).

Seminar ini menghadirkan para nara sumber yang ahli di bidangnya, seperti Maria Henny Pratikno, Marthen Theogivest Lasut, Happy Joy Korah, Tjut Nyak Deviana, serta seniman musisi James F Sundah dan semakin menarik karena dipandu oleh Yerry Tawaluyan, Soraya Togas dan Magdalena Daluas.

Wakil Gubernur Steven Kandouw dalam sambutannya yang disampaikan Kadisbudpar Ir Happy Joy Korah menyatakan bahwa seminar seni budaya ini merupakan kegiatan yang sangat unik dan sakral. Musik Kolintang adalah asset daerah yang harus dilestarikan, walaupun mengalami pasang surut. Namun, apapun kata orang tentang Kolintang, yang pasti musik Kolintang sangat luar biasa. Budaya adalah identitas kita dan Kolintang adalah budaya Minahasa – Sulawesi Utara.

” Untuk itu, mari kita lestarikan. Apalagi Malaysia ikut mengklaim bahwa Kolintang berasal dari sana. Nah ini yang harus kita jawab. Makanya Pemprov mengimbau, setiap hotel dan restoran wajib memutar dan memperdengarkan musik Kolintang sebagai salah satu upaya melestarikannya,” kata Korah.  Usai membawakan sambutan Korah langsung didaulat memainkan melodi Kolintang mengiringi penyanyi Soraya Togas.

Mewakili akademisi Maria Henny Pratikno, menilai esksistensi Kolintang sebagai alat musik hiburan dan tantangan, karena masa modern saat ini anak muda lebih suka keyboard. Adanya tantangan ini, maka pemerintah perlu mensosialisasikan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam musik Kolintang. Sosialisasi bisa mulai dari sekolah sampai perguruan tinggi, dan pemerintah harus menganggarkannya.

“Nilai luhur musik Kolintang perlu diangkat untuk memperkuat karakter bangsa sebagai upaya pelestarian. Harus ditanamkan dalam diri kita bahwa kita orang Minahasa dan Kolintang ada di dalamnya,”tegasnya. Maria kemudian mengusulkan, agar musik Kolintang dimasukan sebagai agenda wisata berupa pertunjukan teaterikal yang dikemas dengan menarik.”Yang lebih penting, kita sendiri ada niat dan harus mau melestarikan musik Kolintang,”tambahnya.

Sementara seniman dan musisi James Sundah, mengungkapkan, setelah diteliti melalui laboratorium, ternyata keunikan Kayu Wanderan memiliki Timbre asli dan tidak pecah, sangat halus dan enak didengar. Sedangkan kayu non Wanderan timbrenya pecah. Semua itu disebabkan serat kayu Wanderan beraturan. Sedangkan non Wanderan tidak beraturan. “Yang pasti kayu Wanderan bisa dimainkan dengan segala jenis musik. Ini adalah karunia Tuhan bagi Minahasa yang kini jadi Heritage,”katanya.

Yerry Tawaluyan menyimpulkan, Sulut sangat beruntung memiliki keluarga Alfred Sundah, karena melalui tangannya Kolintang menjadi terkenal seperti sekarang ini. Dulu, musik Kolintang hanya di mainkan di desa-desa dan tahun 1968 dipersembahkan di Istana Bogor oleh bapak Alfred Sundah dan menjadi terkenal sampai di Belanda. “Ada ratusan lagu yang berhasil dicipta oleh Alfred Sundah. Bahkan di usia senja dan sakit, masih menulis buku bahasa Tonsea. Dan ini menjadi catatan sebagai kontribusi positif Alfred Sundah bagi perkembangan pariwisata Sulut,”ujarnya seraya mengajak peserta seminar untuk dapat menghadiri pagelaran musik Kolintang di Desa Lembean Minahasa Utara pada Sabtu (30/07/2016). (Jr)