Informasi Terkini Sulawesi Utara - Media Online Sulut|Wednesday, December 19, 2018
  • Formulir Kelengkapan Persyaratan Administrasi Dapat Di Unduh Pada http://kpu-sulutprov.go.id
  • PENGUMUMAM PENDAFTARAN CALON ANGGOTA KPU KABUPATEN MINAHASA TENGGARA PERIODE 2018-2023
  • Jual Tanah di Jalan.SEA, Sertifikat Hak Milik, Luas Tanah 2.777M2. Tertarik : Hub.081 340 733 991
Anda disini: Home » Lingkungan » LIPI Sebut Kerusakan Karang Akibat Alam dan Perubahan Iklim

LIPI Sebut Kerusakan Karang Akibat Alam dan Perubahan Iklim 

TNI AL tanam terumbu karang di bunaken beberapa waktu lalu. (foto: net)

SULUTDAILY // Jakarta – Status terumbu karang dalam kategori sangat baik di Indonesia hanya 6,56 persen dengan jumlah 70 site, yang buruk persentasinya 36,18 persen dengan jumlah 386 site. Kategori buruk dari terumbu karang tersebut diakibatkan oleh kondisi alam atau perubahan iklim global.

 

“Secara umum kerusakan terjadi karena perubahan iklim global. Kerusakan bisa terjadi karena alam dan atropogenik. Untuk alam contohnya gempa bumi atau tsunami seperti di Laut Banda, populasi pemangsa polikarang yang tinggi, serta perubahan iklim global,” ujar Peneliti Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Giyanto di Ruang Seminar Besar Widya Graha LIPI, Jakarta Selatan, Rabu, 28 November 2018 dilansir dari Tempo.co.

 

Pengambilan karang alami yang dilakukan oleh nelayan atau pengusaha karang telah memenuhi non detrimental finding (NDF) yang ditetapkan CITES. Berdasarkan hasil kajian Pusat Penelitian Oseanografi yang dilakukan di beberapa provinsi tempat pengambilan karang, kegiatan tersebut ternyata tidak menyebabkan kerusakan maupun penurunan yang signifikan terhadap populasi karang di alam.

 

Akibat dari perubahan iklim, kata Giyanto, kondisi terkini terumbu karang di Indonesia mengalami perubahan dibandingkan tahun lalu. Selain kategori sangat baik dan buruk, kondisi karang di Indonesia dalam kategori baik jumlahnya 245 site atau 22,96 persen, sementara kategori cukup sebanyak 366 site atau 34,3 persen

 

“Sementara kerusakan akibat antropogenik itu contohnya seperti tangkap berlebih adanya ketidakseimbangan, pengeboman dan racun, penambangan, pencemaran, sedimentasi, pariwisata, pengerukan, pengurugan dan pembangunan pantai,” lanjut Giyanto.

 

Terumbu karang memiliki nilai ekonomis yang tinggi, tapi rentang terhadap kerusakan, serta membutuhkan waktu yang lama dan perlakuan khusus untuk mengembalikan terumbu karang seperti semula.

 

 

Berdasarkan hasil pemetaan 2018 dan data sampai 2017, kata dia, beberapa lokasi seperti di Nias kesehatan terumbu karang kurang karena perairan agak keruh, Raja Ampat juga kurang bagus dan Wakatobi yang tinggi karena tutupan karangnya bagus.

 

Peneliti lain yang juga dari Pusat Penelitian Oseanografi LIPI Suharsono menjelaskan bahwa Indonesia merupakan pusat dari ekosistem terumbu karang, khususnya Indonesia bagian tengah.

 

“Australia itu enggak ada kerusakan dari manusia hanya sedikit sekali, hanya karena kegiatan pariwisata. Bleaching hanya terjadi di Indonesia Barat, sementara Indonesia Timur tidak pernah kena karena terdapat arus lintas Indonesia yang bisa menjaga karang,” tambah Suharsono.(yr)