Informasi Terkini Sulawesi Utara - Media Online Sulut|Wednesday, November 14, 2018
  • Formulir Kelengkapan Persyaratan Administrasi Dapat Di Unduh Pada http://kpu-sulutprov.go.id
  • PENGUMUMAM PENDAFTARAN CALON ANGGOTA KPU KABUPATEN MINAHASA TENGGARA PERIODE 2018-2023
  • Jual Tanah di Jalan.SEA, Sertifikat Hak Milik, Luas Tanah 2.777M2. Tertarik : Hub.081 340 733 991
Anda disini: Home » Budaya » Kemilau ‘Sunrise’ Negeri di Atas Awan Minahasa Selatan

Kemilau ‘Sunrise’ Negeri di Atas Awan Minahasa Selatan 

Kemilau Sunrice Negeri di Atas Awan

 Laporan Jeane Rondonuwu, sulutdaily.com

Panorama alam, dengan hamparan awan sebening salju mampu memanjakan setiap mata yang melihatnya. Tak hanya itu, bias cahaya matahari yang mulai terbit membuat pagi hari begitu menenangkan hati. Menanti pagi dengan tontonan kemilau sunrise yang mewarnai awan di cakrawala ini,  dapat anda nikmati di Daseng Gunung Payung Desa Poopo Kecamatan Ranoyapo, Minahasa Selatan berjarak 117 km dari Kota Manado, Sulawesi Utara.

Menanti pagi dengan tontonan kemilau sunrise

Menanti pagi dengan tontonan kemilau sunrise

Sejak Selasa (11/09/2018) pukul 17.00 Wita, rombongan ‘Pemburu Awan’ yang terdiri dari Komunitas Xriders Yamaha Indonesia Manado (XYI Manado),  Kelompok Pecinta Alam Bebas Lolombulan (KPABL) Motoling dan Junalis sudah melapor di Posko Daseng Gunung Payung untuk melakukan tour adventure ke sebuah lokasi yang sedang viral dengan julukan ‘negeri di atas awan’. Rombongan sempat disambut dengan Tarian ‘Mawolay oleh warga setempat.

Menempuh perjalanan sekitar 2 km selama 1 jam , dengan berkendara motor namun harus berjuang menembus lumpur dan 5 aliran sungai berbatu tak membuat kendor, tapi justru membakar semangat untuk terus bergerak. Mataharipun terbenam, hari mulai gelap seiring rombongan Komunitas XYI mulai memarkir motornya.

sunrice di Gunung Payung

sunrice di Gunung Payung

Pukul 18.10 Wita dengan berbekal senter, baik senter kepala, senter tangan dan senter HP, sekitar 100 orang rombongan bersama para warga Poopo mulai menapaki tangga demi tangga darurat yang dijuluki ‘seribu tangga’. Memang bagi mereka yang baru pertama kali, mendaki lereng terjal karena memiliki derajat kemiringan 45° 70° ini membutuhkan kesiapan fisik dan mental yang paripurna.

Sesekali tangan harus meraih akar pohon untuk pegangan sambil dihiasi bunyi suara Wolay (Monyet) dan burung malam. Perjalanan menuju Daseng Gunung Payung memang mendebarkan dan sangat menantang. Makanya, jalur ini sering disebut warga sebagai ‘Jalan Patah Hati’. Karena banyak orang pesimis melanjutkan pendakiannya akibat kelelahan dan merasa tidak sanggup lagi .

Pesona Kristal - Kristal Beku di Atmosfer Desa Poopo

Pesona Kristal – Kristal Beku di Atmosfer Desa Poopo

Perjalanan hinga ke puncak dengan posisi 574 meter dari permukaan laut (mdpl) ini bisa ditempuh dalam beragam waktu. Ada yang bisa dicapai dalam 1 jam, 1, 5 jam, 2 jam dan ada yang hingga 3 jam karena memilih banyak istirahat.  Pukul 20.30 Wita akhirnya sampai di lokasi Daseng Gunung Payung, dan segera membuat tenda untuk tempat istirahat . Pengunjung rupanya mulai berdatangan dan tak terasa ratusan penikmat negeri di atas awan sudah standby di tenda masing-masing menghitung waktu, menanti datangnya pagi.

Pesona Kristal – Kristal Beku di Atmosfer Desa Poopo

Pukul 04.30 Wita Rabu (12/09/2018) semua pengunjung sudah keluar dari tenda dan bersiap menanti sunrice (matahari terbit) diantara hamparan awan yang menajubkan. Sempat ada keraguan beberapa saat karena awan yang ditunggu-tunggu memang sedikit lambat datang. Namun hampir pukul 05.00 langit mulai terang dan awan tebal  mulai menutupi lembah Desa Poopo. Terdengar, para pemuda yang tergabung dalam Karang Taruna Desa Poopo menyanyikan kidung-kidung rohani tentang kebesaran dan keagungan yang Maha Kuasa.

Seperti diketahui bahwa awan adalah massa yang dapat dilihat dari tetesan air atau kristal beku tergantung di atmosfer di atas permukaan bumi.  Puji Tuhan,  hamparan dari kristal kristas beku ini dapat anda liat dengan leluasa di Daseng Gunung Payung. ‘’ Jika musim hujan, awannya akan lebih tebal dan sangat dekat dengan daseng ,’’kata Bill Werung dan Ardiles Menajang warga Desa Poopo.

Negeri di Awan kini banyak di Kunjungi

Negeri di Awan kini banyak di Kunjungi

Hampir pukul 06.00 Wita bias cahaya matahari mulai menyinari dan menghipnotis para pengunjung. Dan wow…keren! Moment sunrice pun tiba. Bukan hanya tentang keindahan yang dihasilkannya, tetapi suasana hati ikut membakar semangat. Apalagi, Gunung Lokon, Gunung Soputan, Gunung Klabat serta Gunung Lolombulan terlihat kokoh dibelakang hamparan awan.

Para pengunjung siap dengan kamera Hp, kamera profesional dan drone untuk mengabadikan moment tersebut. ‘’ Rasa lelah menempuh perjalanan ekstreme semalam serasa terbayarkan ketika menikmati suasana pagi ini,’’kata Triana, seorang pengunjung dari Kota Manado.

Sekdes Poopo Sweetly Lumenta

Sekdes Poopo Sweetly Lumenta

Sekretaris Desa Poopo Sweetly Lumenta mengakui bahwa, setelah viral di media sosial dan  sejumlah media  melakukan liputan di Daseng Gunung Payung, pengunjung yang datangpun semakin banyak. ‘’ Setiap hari telah dikunjungi ratusan orang dan jika waktu liburan dan weekend bisa mencapai 1500 pengunjung,’’kata Sweetly.

Menurut Sekdes, dengan adanya destinasi wisata alam di Desa Poopo tentu menjadi kebanggaan tersendiri. ‘’ Karena desa ini semakin terkenal, tentu masyarakat juga harus mempersiapkan diri dan mental untuk menjadi tuan rumah yang baik, ramah dan terutama terus menjaga keamanan desa,’’tambah Sweety didampingi para Karang Taruna Desa Poopo yang ikut membantu mempromosikan negeri di atas awan di media sosial.

Hingga pukul 09.00 Wita , pengujung masih bisa menikmati keindahan negeri di atas awan dan kemudian bersiap untuk turun gunung melewati tantangan tersendiri. Biasanya untuk turun dari daseng, pengunjung bisa menghabiskan 30 menit atau lebih untuk lokasi yang terjal.

Butuh Perhatian Pemerintah

Pemilik Daseng (Sabua) Gunung Payung Des Poluakan mengatakan pemandangan awan seperti ini sudah ada sejak 10 tahun lalu saat mulai mengelolah lahan untuk perkebunan cengkih dilokasi ini. ‘’ Saya belum menyadari kalau pemandangan alam ini bisa jadi objek wisata, maklum kami orang di kampung,’’kata Des yang akrap di sapa Rasit didampingi istrinya Hana Ratu.

Rasit didampingi istrinya Hana Ratu

Rasit didampingi istrinya Hana Ratu

Des Poluakan adalah warga Desa Poopo yang mengelolah lahan kawasan hutan Poopo seluas 2 hektare dengan menanam pohon cengkih yang kini mulai berbuah. ‘’ Saya yang mengelolah kawasan ini dengan perkebunan cengkih. Saya tidak menyangkah lokasi ini akan menjadi berkat bagi banyak orang. Untuk itu saya berharap lokasi objek wisata ini bisa menjadi perhatian pemerintah baik pusat maupun pemerintah Sulawesi Utara dan Pemkab Minahasa Selatan. Terutama, mohon pak Presiden Jokowi kiranya membantu kami,’’harap Rasit.

Rasit mengakui fasilitas di lokasi Gunung Payung belum memadai. ‘’ Disini belum ada toilet. Jalan menuju kesini juga belum begitu aman untuk pengunjung, apalagi jika hujan. Jalan yang terjal itu akan sangat licin,’’ungkap Rasit sambil berharap ada bantuan dari pemerintah untuk menata jalan menuju daseng menjadi lebih baik.

Chindy RuslanTerkait cerita viralnya Negeri di Atas Awan di Medsos, Chindy Ruslan mengatakan bahwa sekitar dua tahun lalu 4 pemuda Karang Taruna Desa Poopo yakni Paul, Dion, Johani dan Steve naik kesini, beristirahat  hingga pagi. Mereka menyadari keindahan matahari terbit dari Daseng ini, tetapi sayang waktu itu mereka tidak membawa hp untuk mengabadikan keindahan sunrice pagi itu.

‘’ Mereka turun dan menyampaikan berita ini kepada teman-teman karang taruna dan kemudian kembali lagi dengan semakin banyak orang dan mulai memposting foto-foto ke medsos ; facebook dan instragram. Warga sekitar Poopo mulai datang kesini dan terus memposting foto-foto dan video. Hinga kini telah viral dan mengundang banyak pengunjung, juga media untuk datang kesini,’’ cerita Chindy.

Warga Poopo Casper Kordak

Warga Poopo Casper Kordak

Salah satu warga Poopo Casper Kordak begitu yakin objek wisata alam Gunung Payung dengan sensasi Negeri di Atas Awannya akan menjadi destinasi wisata yang diminati para wisatawan baik dalam negeri maupun luar negeri . ‘’ Hanya dibutuhkan kerja keras dan kesiapan dari warga Desa Poopo untuk menjadi tuan rumah yang ramah dan kondisi desa yang aman dan tentram. Jika banyak pengunjung yang datang , tentu dengan sendirinya akan mendorong peningkatan ekonomi  di desa,’’kata Casper.

Sama halnya dengan Hukum Tua Desa Poopo Eril Pekan yang mengatan bahwa warga Poopo sudah harus mempersiapakan diri sebagai warga yang sadar wisata. Memberikan partisipasi dan dukungan sehingga terwujudnya suasana kondusif bagi perkembangan pariwisata di Desa Poopo.  ‘’ Warga Poopo sudah harus memahami unsur dalam Sapta Pesona  yakni aman, tertib, bersih, sejuk, indah, ramah dan kenangan,’’ujarnya.

Perpaduan Wisata Alam dan Budaya

Pemerhati alam dan budaya Albert LangitanPerpaduan wisata alam dan budaya yang harmoni telah menjadi konsep pariwisata masa kini yang  menginginkan di daerah tujuan wisata tetap utuh dan lestari, di samping budaya dan kesejahteraan masyarakatnya tetap terjaga. Pariwisata harus memperkuat budaya dinilai ideal untuk Sulawesi Utara.

Pemerhati alam dan budaya Albert Langitan mengapresiasi objek wisata alam Gunung Payung  sebagai potensi wisata unik dan memiliki  tantangan tersendiri bagi para pangunjungnya. ‘’ Selain keindahannya,  pesona Negeri di Atas Awan memiliki nilai budaya Minahasa yang sangat kental. Para pengunjung disambut dengan tarian Mawolay dan tarian Kabasaran, begitu harmoni ’’kata Langitan yang kini aktif di Organisasi Pencinta Alam Remaja Indonesia Menyatu Bersama Alam (OPA RIMBA) yang didirikan sejak tahun 80an.

Karang Taruna Desa PoopoSelain itu, harus diakui saat ini objek wisata Gunung Payung telah menjadi buruan dari para adventure, pendaki gunung dan pencinta alam. ‘’Bila anda sudah bisa mencapai ke puncak Gunung Payung , maka sudah bisa menaklukan Payung Sulut yakni Gunung Klabat,’’ kata Albert yang lebih dikenal dengan sapaan Opa Titi yang senang betualang bersama alam sejak kelas 6 SD Katolik Tondano. (***)