Informasi Terkini Sulawesi Utara - Media Online Sulut|Wednesday, November 22, 2017
  • Jual Tanah di Jalan.SEA, Sertifikat Hak Milik, Luas Tanah 2.777M2. Tertarik : Hub.081 340 733 991
Anda disini: Home » Berita Sulut » Minut » Diduga Ada Permainan Harga, Peternak Keluhkan Harga Babi Potong Anjlok

Diduga Ada Permainan Harga, Peternak Keluhkan Harga Babi Potong Anjlok 

Peternak Keluhkan Harga Babi Potong Anjlok

SULUTDAILY|| Airmadidi- Beberapa minggu terakhir ini, Peternak babi di Minahasa, Minsel, Bitung, Tomohon mengeluh tetang semakin menurunnya harga babi potong. Mulai dari harga 25 ribu per kilogram sampai 29 ribu perkilogram. Namun di jual pasar tradisional 50-60 ribu per kilogram. Para peternak babi mengeluh karena dengan turunnya harga daging babi potong ini, sudah tidak sesuai lagi dengan biaya produksi babi. Sebut saja Meta Ruru,  peternak babi asal Desa Sampiri Minahasa Utara .

“ Harga babi potong saat ini anjlok diangka paling rendah yakni 25 ribu per kilogram.  So Nyanda sesuai lagi dengan pengeluaran makan dan perawatan babi potong. Bisa dibayangkan saja harga konga padi sampai 2500 per kilo dan harga milu giling  4000 per kilo belum lagi konsentrat dan obat-obat perawatan babi” ucap Ruru.

Diduga ada permainan harga

Diduga ada permainan harga

” Peternak yang punya modal besar mungkin bisa bertahan dalam bisnis ini, akan tetapi ada ratusan peternak babi yang modalnya kecil yang beternak hanya 20-50 ekor babi, pasti akan mengalami dampak negative dalam pengembangan bisnis peternakan babi,” jelasnya.
Ronny Warga asal Tareran Minahasa Selatan mengelukan hal yang sama, bahkan mendesak pemerintah agar turun tangan dalam mengatasi permainan harga daging babi ini.

“Kami hanya peternak babi kecil, modal kecil menginginkan Pemerintah campur tangan dalam permainan harga ini, karena Peternak mengalami kerugian dan pemotong mengalami keuntungan besar” Ungkap Ronny warga Wiau Lapi Kecamatan Tareran Minsel.

Harga daging babi dipasar-pasar tradisional 50-60 ribu per kilogram. Keuntungan besar didapat oleh pemotong yang mendistribusikan daging babi di beberapa pasar tradisional dan swalayan di Manado,Tomohon dan Bitung.

Ronny menambahkan Jika ada persatuan para peternak babi, maka panen babi potong bisa ditahan dulu agar bisa  disesuaikan dengan harga pasar saat ini.  ” Peternak babi bisa mendesak Pemerintah agar bisa mengontrol harga babi yangdijual kemasyarakat Sulut dan daging yang dibeli oleh pemotong ke peternak babi, ”tegas Ronny.

Saat bertemu salah satu pemoton dan distributor daging babi di pasar tradisional  (JL) alias John menjelaskan bahwa beberapa dari mereka hanya mengikuti harga beli pasar. “Torang lagi cuma iko harga di pasar, karena torang lei cuma ada ba ofor pa orang laeng yang ada ba borong babi” ungkap John.

Pemotong dan distributor daging babi di pasar tradisonal juga hanya membeli ke pemasok babi. Sangat jauh perbedaan harga beli dan harga jual daging babi yang merugikan peternak babi Sulawesi Utara. Masyarakat Sulut merupakan konsumen terbesar daging babi di Indonesia.  (Nathan)