Informasi Terkini Sulawesi Utara - Media Online Sulut|Tuesday, November 21, 2017
  • Jual Tanah di Jalan.SEA, Sertifikat Hak Milik, Luas Tanah 2.777M2. Tertarik : Hub.081 340 733 991
Anda disini: Home » Budaya » Cerita Rakyat Satas: ‘Sakeha’

Cerita Rakyat Satas: ‘Sakeha’ 

Pantai Sitaro

SULUT DAILY|| Siau- Di pantai tempat yang sangat baik untuk peristirahatan bagi pengembara, tempat yang dalam bahasa Siau disebut sebagai “Mangilaghaeng”. Dengan kata lain Mangilaghaeng berarti tempat yang baik untuk beristirahat. Pantainya berpasir, ditumbuhi pohon-pohon besar seperti pohon dingkalreng, penimbuhing dan bitung yang akar-akarnya timbul di permukaan tanah dan menggelantung, saling kait mengait menyerupai gua yang lengkap dengan untaian akar serabut. Serabut akar itu seringkali digunakan penduduk sebagai ayun-ayunan. Sedangkan orang-orang dewasa dapat melepas lelah setelah melaut atau sesudah berkebun, membaringkan diri mereka di atas hamparan pasir, di bawah rindang pepohonan raksasa yang berjejer itu. Bahkan sampai pagi. Sungguh indah suasana kala itu.  Itulah gambaran landscape pantai Laghaeng hingga era 1980an.

 Fondasi bangunan dibangun di atas batu pipih yg menjadi tempat pendaratan hiu (tangahiang). Foto/dirno

Fondasi bangunan dibangun di atas batu pipih yg menjadi tempat pendaratan hiu (tangahiang). Foto/dirno

Ditelisik jauh ke belakang, yaitu dibalik sejarah berdirinya kampung, di sebelah selatan perkampungan terdapat sekelompok orang yang berasal dari Kampung Makoa. Orang-orang itu menetap sementara waktu, karena keperluan melaut. Tempat yang mereka tinggali dipenuhi pohon sagu yang disebut baru atau bahu di pesisir pantainya. Sedangkan orang-orang membangun daseng mereka di tempat yang agak tinggi. Tempat itu dinamakan Bowong Bahu. Di kemudian hari tempat itu disebut Bombahu atau Bumbahu.

Di Mangilaghaeng hiduplah sepasang suami isteri bernama Sakeha dan Siondaľi dengan beberapa keluarga merupakan keturunan Gehiwu yang awalnya menetap di puncak Bukit Megembalo. Sakeha dikenal sebagai pria yang memiliki kekayaan melimpah tetapi rendah hatinya. Isterinya, Siondaľi wanita yang amat cantik, memiliki rambut lurus sampai ke tumit dan kulitnya putih mulus, tidak heran kecantikannya memikat hati banyak orang. Dalam hal bergaul, Sakeha tidak memilih sahabat, ia bergaul dengan siapa saja karena semua orang dipandangnya baik. Sungguh pikirannya selalu positif. Sikap itulah yang membuat putri Siondali takluk dan mau dinikahi oleh Sakeha. Kedua sejoli itu hidup damai dan sejahtera, penuh kearifan dan kekayaan materi. Sakeha membuat sebilah belati dari emas murni dan isterinya mengoleksi ratusan barang-barang emas, seperti kalung, anting, gelang, serta perhiasan-perhiasan lainnya yang diletakkannya pada sebuah piring putih (pinggang uhise).

Sementara itu di Bumbahu hidup sekelompok orang yang seringkali turun ke pantai Mangilaghaeng untuk melepas lelah. Sakeha yang bertubuh kekar itu dijuluki “bahani” dan berteman karib dengan Mangintari dari Bumbahu. Mangintari sudah lama mengidap penyakit kulit sehingga tubuhnya bersisik. Dalam persahabatan kedua lelaki itu Mangintari kemudian merasa terpikat hatinya melihat kecantikan Siondal’i.

Sejatinya Sakeha dengan belati emasnya, mampu menarik murninya cinta Siondali. Sebaliknya, Mangintari merasa jatuh cinta pada Siondali meski hanya bertepuk sebelah tangan. Mangintari menyusun siasat untuk melenyapkan Sakeha dari muka bumi. Diajaknya Sakeha mencari ikan (mubae) dengan satu perahu didayung bersama.

Ketika hendak melaut bersama, Mangintari mengambil belati emas milik Sakeha kemudian menjatuhkannya ke dasar laut, karena pikirnya, belati itulah yang selama ini menjadi sumber segala kesaktian Sakeha sehingga dengan mudahnya memperoleh kekayaan dan isteri yang cantik. Sakeha kaget melihat perbuatan Mangintari, kemudian bertindak spontan menyelam ke dasar laut mengejar belatinya dengan menggunakan tolu di kepalanya. Sakeha tak sempat membuka tolu yang dikenakannya saat itu.

Sebelum belati emasnya menyentuh dasar laut, belati itu terlebih dulu menancap di ujung tolu yang dikenakan Sakeha, kemudian dirinya kembali ke permukaan dengan belati sakti yang tertancap kuat di tolu-nya.

Yang pertama Batu Darisi, dimana ukuran mulut Hiu sama tingginya dengan batu tersebut./foto. dirno

Batu Darisi, dimana ukuran mulut Hiu sama tingginya dengan batu tersebut./foto. dirno

Sementara Sakeha sedang berjuang keras mengejar belatinya tadi, Mangintari buru-buru kembali ke daratan dan memberitahukan kepada seluruh penduduk di Laghaeng maupun penduduk bahwa Sakeha telah tenggelam ke dasar laut dan dimangsa ikan hiu. Mangintaripun pergi hendak meminang janda Sakeha, si Siondal’i. Mendengar kabar itu, Siondal’I menangis semalam suntuk lalu menolak mentah-mentah lamaran Mangintari.

Ketika subuh datang, Siondali naik ke Pahempang melalui “dal’eng batu” membawa semua harta emasnya yang diletakkan di piring uhise. Dari atas Pahempang ia lalu menangis sekuat-kuatnya sehingga didengar oleh semua penduduk, kemudian membuang dirinya dan seluruh emasnya ke tubir Kampung Laghaeng. Dan hingga kini, tak seorangpun menemukan jasad Siondalri dan harta itu kembali. Dalam tangisnya Siondali berpesan bahwa harta kekayaannya tidak berguna sama sekali, lebih baik dirinya kehilangan emas daripada kehilangan kekasih hatinya yang selama ini hidup bersama penuh cinta. Sejak saat itu dikenallah pepatah Laghaeng “Maning Bulraeng Sindepa, Tamakasulrung Pudalahiking Mapia”.

Padahal, sesungguhnya Sakeha ditolong oleh Hiu raksasa (Tangahiang) dan selama tiga hari tiga malam mereka pergi ke semua nusa untuk menyampaikan kabar sekaligus anjuran perdamaian tentang jasa pertolongan Hiu kepada anak manusia (Sakeha), sehingga seluruh manusia di nusa-nusa sejak saat itu dilarang memburu dan makan daging Hiu. Jika anjuran ini tidak diindakan, maka hukumannya adalah manusia akan dimangsa Hiu, sebaliknya jika anjuran ini ditegakkan, maka manusia akan ditolong dari bahaya di lautan.

Setelah melakukan misi mulia itu, pada petang di hari ketiga, tiba-tiba pantai Laghaeng dan segala isinya dihantam ombak yang amat besar seperti sedang mengalami tsunami. Ombak itu terjadi karena amukan banyak ikan hiu yang berseliweran dan menggelorakan air laut di pantai Laghaeng. Tsunami itu memporak-porandakan setiap sudut kampung sampai hancur lebur. Begitu banyak ikan-ikan seperti ikan layang dan ikan bergerigi panjang dan tajam (ikan selong) menancap dan menembus batang pohon-pohon pisang milik warga. Warga mengungsi ke kaki bukit Magembalo dan kaki bukit Gumahe. Dalam pengungsian yang mendadak itu, warga mengalami kekurangan makanan dan ikan-ikan yang menancap di pohon pisang kemudian diambil warga untuk dikonsumsi. Sejak saat itu kampung baru yang ditempati warga eksodus itu diberi nama “laghae” yang artinya masaklah.

Warga Laghaeng yang mengungsi kala itu melihat langsung aksi gagah perkasa Sakeha yang mengendarai Tangahiang dan mendamparkan dirinya di sebuah batu datar yang terletak samping Batu Darisi (batu berdiri). Mulut Tangahiang terbuka lebar setinggi batu darisi itu sembari menakut-nakuti penduduk yang sedang lari tunggang langgang. Sakeha kemudian turun dari punggung Tangahiang dengan melompat ke atas batu datar itu dan menenangkan seluruh warga agar tidak panik.

Sebagai rasa terimakasihnya pada Tangahiang, Sakeha mencari bunga Manuru dicampur dengan pohon-pohon wewangian lainnya diramu menjadi air wewangian yang dimandikan kepada Tangahiang. Hiu raksasa itupun menjadi betah tinggal di Laut Laghaeng. Tangahiang memberi tanda kepada Sakeha bahwa dalam tiga hari Sakeha tidak boleh mandi di laut.

Sakeha tidak membalas perbuatan jahat yang dilakukan Mangintari terhadap dirinya. Karena jelas tidak dapat menghidupkan kembali isteri tercintanya. Hanya saja, Sakeha telah belajar banyak perilaku sahabatnya yang sudah melakukan perbuatan jahat dan tetap mengampuni dan mengasihani Mangintari seperti saudaranya sekandung.

Kuburan Sakeha di tempat bernama Tamba

Kuburan Sakeha di tempat bernama Tamba

Setelah tiga hari yang diisyaratkan oleh Tangahiang, sekelompok Hiu kembali menyerang pantai Laghaeng dan ombak besar menghantam semua yang tinggal di kampung. Pada saat itulah, Mangintari lenyap ditelan ombak dan dimakan Hiu secara mengenaskan.  Sikap patriotik dan ksatria Sakeha ini, menjadi teladan bagi keturunannya di Kampung Laghaeng.

Dalam perjalanan sejarah di kemudian hari, kampung Laghae berubah nama menjadi Laghaeng. Kedua huruf “ng” ditambahkan kemudian pada abad ke 19 oleh Guru Kakalang. Sejak saat itu Kampung Laghae menjadi Kampung Laghaeng. Yang dimaksud dengan Kampung Laghaeng adalah kampung dimana Tangahiang dan Sakeha mendarat. Kampung yang dulunya satu bagian utuh itu, kini terpisah. Warga yang menempati kaki bukit Megembalo menjadi warga kampung Laghaeng, sedangkan warga yang menempati kaki bukit Gumahe yaitu kawasan yang ditumbuhi banyak pohon bahu (sejenis palm untuk membuat sagu), disebut sebagai warga Bumbahu.

Kedua tempat Bumbahu dan Laghaeng dibatasi oleh satu anak bukit yang disebut Peliang sementara di kedua ujung kampung, terdapat tanjung yang disebut Tonggeng Laghaeng dan Tonggeng Bumbahu, keduanya selanjutnya dinamakan Tonggene. Bukit kecil yang menjadi batas pemisah Laghaeng-Bumbahu menjadi tempat dikuburkannya jasad Siondali dan bukit Pahempang yang tersambung dengan tanjung Laghaeng dimana Batu Darisi itu berada, menjadi tempat dimakamkannya Sakeha. Persisnya, makam Sakeha dapat dijumpai di tempat yang detilnya disebut “tamba” dan Siondali makamnya di “Bowong Peliang”. Peliang sendiri berasal dari kata peli yang berarti tabuh, sehingga Peliang dapat diartikan: yang ditabuhkan. Setiap orang yang hendak berjalan melewati Peliang, dilarang berbicara dengan suara keras apalagi ribut, karena di tempat ini sangat mateling.(***)

(cerita ini ditulis oleh Dirno Kaghoo melalui  Wawancara dengan George Takalmingan, A Maningide Frens Kampong, Frans Kampong, Martin Lukas)