Adaptasi New Lifestyle, Kontraksi Ekonomi Sulut Membaik

Adaptasi New Lifestyle, Kontraksi Ekonomi Sulut Membaik

EKONOMI Sulawesi Utara (Sulut) triwulan III 2020 terkontraksi sebesar 1,83% (yoy), membaik dibandingkan dengan kontraksi pada triwulan sebelumnya sebesar 3,89% (yoy), meskipun belum kembali ke level sebelum pandemi COVID-19 termasuk dibandingkan periode yang sama tahun 2019 yang masih tercatat tumbuh sebesar 5,19% (yoy).

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Utara Arbonas Hutabarat mengatakan kontraksi Perekonomian Sulut juga tercatat lebih rendah dibandingkan dengan kontraksi perekonomian nasional TW III 2020 yang mencapai 3,49% (yoy).

“Bila dilihat dari sisi lapangan usaha (LU), industri pengolahan dan pertanian yang tetap tumbuh kuat menjadi penopang pertumbuhan ekonomi Sulut. Namun kontraksi masih dialami LU utama lainnya khususnya LU transportasi dan pergudangan dan LU konstruksi meski tidak sedalam triwulan sebelumnya, disamping kontraksi pada LU perdagangan,” kata Arbonas dalam rilis BI Sulut Kamis (05/11/2020).

Kepala Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Utara Arbonas Hutabarat

Menurut Arbonas, kinerja LU transportasi dan pergudangan kembali menjadi LU utama dengan kontraksi terdalam. LU transportasi terkontraksi sebesar 16,47% (yoy) dan memberikan kontribusi pada kontraksi pertumbuhan sebesar 1,47% (yoy).

Meski demikian, terdapat perbaikan pada kinerja LU ini dibandingkan TW II 2020, seiring diberlakukannya new lifestyle sehingga mendorong perbaikan operasional transportasi udara dan transportasi laut. Jumlah penumpang dari dan menuju bandara Sam Ratulangi pada TW III 2020 terkontraksi sebesar 74,62% (yoy) lebih rendah dibandingkan triwulan II yang terkontraksi sebesar 91,88%.

“Fenomena serupa juga terjadi pada transportasi laut dimana penumpang laut pada TW III terkontraksi sebesar 59,89% (yoy) lebih rendah dibandingkan kontraksi triwulan sebelumnya sebesar 77,70% (yoy). Meningkatnya aktivitas sosial ekonomi masyarakat diperkirakan juga mendorong perbaikan kinerja transportasi darat,” jelasnya.

Adapun LU konstruksi tercatat mengalami kontraksi sebesar 6,30% (yoy) atau membaik dibandingkan kontraksi pada triwulan sebelumnya sebesar 8,04% (yoy). Adanya perbaikan permintaan swasta disamping percepatan pembangunan proyek-proyek padat karya pemerintah diperkirakan menurunkan laju kontraksi LU Konstruksi.

Hal ini tercermin juga dari realisasi pengadaan semen yang hanya terkontraksi 19,96% (yoy), membaik dibandingkan triwulan sebelumnya yang terkontraksi hingga 33,22% (yoy).

Menurut analisa BI Sulut, LU perdagangan besar dan eceran; reparasi mobil dan sepeda motor (perdagangan) mengalami penurunan kinerja pada triwulan III 2020. LU perdagangan terkontraksi sebesar 1,68% (yoy) lebih dalam dibandingkan kontraksi pada triwulan sebelumnya sebesar 0,90% (yoy).

Kontraksi yang lebih dalam ini terjadi seiring pembatalan festival-festival level nasional seperti Manado Fiesta, Festival Pesona Bunaken, dan Tomohon International Flower Festival disamping perayaan hari raya pengucapan dan idul adha yang relatif tidak semeriah tahun sebelumnya.

Perdagangan antar pulau juga menunjukkan penurunan kinerja ditandai penurunan volume muat barang antar pulau sepanjang TW III 2020 sebesar 48,96% (yoy), lebih dalam dibandingkan triwulan sebelumnya yang terkontraksi sebesar 7,34% (yoy).

Pertanian, Perkebunan dan Perikanan Kokoh

Di sisi lain, pertumbuhan dua lapangan usaha utama Sulut lainnya mencatat pertumbuhan positif dan kuat. LU pertanian, kehutanan dan perikanan (pertanian) tercatat tumbuh sebesar 4,91% (yoy) pada triwulan III 2020 menguat dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 1,47% (yoy).

Menguatnya kinerja LU ini didorong oleh seluruh subLU pembentuknya. Kinerja tanaman pangan diperkirakan menguat sering terjadinya panen raya pada triwulan III 2020. Kinerja perkebunan tahunan diperkirakan masih kuat sejalan dengan permintaan industri yang juga tumbuh positif.

Kinerja perikanan juga menunjukan perbaikan pada triwulan III sejalan dengan ekspor komoditas perikanan (SITC:03) yang tercatat tumbuh 11,52% (yoy) setelah pada triwulan sebelumnya terkontraksi 33,26% (yoy).

Sementara itu, diulas Arbonas, kinerja industri pengolahan (industri) tercatat tumbuh sebesar 5,14 % (yoy) relatif stabil dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 5,24% (yoy). Harga coconut oil (CNO) dunia yang terus melanjutkan tren positif memberi insentif bagi perusahaan untuk meningkatkan produksi. Harga CNO pada triwulan III tercatat tumbuh sebesar 38,13% (yoy).

Kenaikan harga CNBO mendorong kinerja sebagamana ditunjukan ekspor minyak nabati yang tumbuh sebesar 28,92% (yoy) menguat dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 23,38% (yoy).

Dari sisi pengeluaran, kontraksi terjadi pada seluruh komponen dengan konsumsi pemerintah dan investasi menjadi komponen dengan kontraksi terdalam.

“Konsumsi pemerintah tercatat terkontraksi sebesar 8,60% (yoy) lebih dalam dibandingkan triwulan sebelumnya yang terkontraksi sebesar 4,36% (yoy). Penurunan realisasi belanja pegawai, belanja barang dan jasa APBD serta penurunan belanja barang jasa APBN di Sulut menyebabkan output konsumsi pemerintah belum optimal,” ungkapnya.

Proses realokasi anggaran termasuk pengesahannya yang memakan waktu diperkirakan berkontribusi pada tertundanya realisasi anggaran pemerintah daerah. Kinerja belanja pemerintah yang belum optimal pada TW III berkontribusi pada kontraksi perekonomian Sulut sebesar 1,34% (yoy).

Pembentukan Modal tetap Bruto (PMTB) atau Investasi tercatat terkontraksi sebesar 4,27% (yoy) lebih rendah dibandingkan kontraksi pada triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 8,41% (yoy).

Adanya perbaikan kinerja investasi terutama didorong oleh investasi swasta, antara lain diindikasikan investasi PMA di Sulut yang tercatat tumbuh 21,08% (yoy) pada TW III 2020.

Namun demikian, kontraksi realisasi investasi PMDN sebesar 65,28% (yoy) menahan kinerja investasi untuk tumbuh positif, demikian pula halnya pelaksanaan realokasi anggaran pemerintah dalam rangka penanganan pandemi yang menyebabkan penurunan belanja modal pemerintah pusat maupun daerah sehingga belum mampu menjadi faktor pendorong investasi.

Konsumsi Rumah Tangga dan ekspor menunjukan perbaikan pada TW III 2020. Konsumsi Rumah tangga terkontraksi sebesar 1,09% (yoy) membaik dibandingkan kontraksi pada triwulan sebelumnya sebesar 6,28% (yoy).

Perbaikan konsumsi rumah tangga sejalan dengan perbaikan aktivitas sosial ekonomi masyarakat sebagaimana ditunjukan tren positif google mobility index Sulawesi Utara.
Keyakinan konsumen juga menunjukan perbaikan sebagaimana ditunjukan rata-rata IKK yang sudah kembali berada diatas 100.

Ekspor terkontraksi sebesar 3,77 % (yoy) membaik dibandingkan kontraksi pada triwulan sebelumnya yang mencapai 5,04% (yoy). Membaiknya ekspor luar negeri pada komoditas perikanan dan minyak nabati menjadi faktor pendorong perbaikan ekspor di tengah ekspor antara daerah yang kontraktif.

Optimisme Perbaikan Perekonomian Sulut

Ke depan, Bank Indonesia optimis perbaikan perekonomian Sulut akan terus berlanjut. Aktivitas masyarakat di luar rumah telah menunjukkan tren kenaikan dan mulai mendekati kondisi sebelum COVID-19.

Kepala BI Arbonas melihat optimisme perbaikan ekonomi juga didorong dengan pengendalian COVID-19 yang semakin baik sebagaimana ditunjukan jumlah kasus aktif yang berada dalam tren menurun. Oleh karena itu, adaptasi kebiasaan baru perlu terus diperkuat untuk menyeimbangkan pengendalian risiko penyebaran COVID-19 di tengah upaya mengembalikan perputaran roda perekonomian.

Sedangkan risiko lambatnya pemulihan ekonomi perlu dimitigasi dengan kecepatan penyerapan stimulus fiskal daerah, dan peningkatan penyaluran kredit terutama pada UMKM.

“Menyikapi tantangan dan risiko tersebut, Bank Indonesia akan tetap memperkuat koordinasi kebijakan dengan pemerintah daerah mendukung pembukaan dan pemulihan sektor produktif strategis dengan menerapkan protokol new normal, memberi dukungan sistem pembayaran non tunai untuk realisasi program jaring pengaman sosial bagi kelompok miskin dan rawan miskin, serta mendorong pemanfaatan digitalisasi dalam kegiatan ekonomi khususnya kegiatan UMKM di Sulawesi Utara,” tutupnya.(**/Jr)

CATEGORIES
TAGS
Share This